November—we all know, ini adalah bulan yang identik dengan semaraknya peringatan Hari Pahlawan. Anyway, Selamat Hari Pahlawan untuk seluruh pahlawan seantero jagad raya, yang di alam barzah atau di alam sutera *ehh. Khususnya para pahlawan yang sudah all out banget perjuangin kemerdekaan Indonesia, tanpa mereka kita mungkin cuma jadi butiran oreo yang ketiup angin di Samudera Hindia terus nyangkut di bulu domba. So, kita sebagai generasi penerus yang punya jiwa nasionalisme harus bisa ngisi kemerdekaan dengan cara-cara yang smart ya. Jangan jadi generasi yang suka kambing hitamin micin, nah si domba ketemu saudaranya.
Ngomongin tentang domba, aku jadi keinget sesuatu yang buruk di masa kelam *eaa. Agus Tansil, Ketum Hari Pahlawan Nasional 2017, di Gedung Kominfo Jakarta sempat nyinggung latar belakang sejarah Indonesia yang diwarnai dengan devide et impera atau politik adu domba. Wah gimana tuh ? yang menang domba lokal atau impor ? Plis deh bukan dombanya yang diadu, tapi politik adu domba itu adalah sebuah strategi yang mengkombinasikan politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Jadi gitu ya readers, bukan adu kekuatan domba.
Berjuang, bertahan, dan membuat perubahan besar memang susah banget diwujudkan sendiri, bahkan oleh orang yang punya potensi besar sekalipun. Misalnya presiden, tanpa persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat dia hanyalah seorang manusia biasa. Tapi beda banget kalau dilakukan bersama, semut, hewan kecil gitu aja bisa ngangkat beban yang beratnya berpuluh-puluh kali dari berat badannya karena koentjinya adalah kebersamaan. Hal ini bisa jadi refleksi kita sebagai manusai sehat yang punya akal jernih untuk mikirin gimana dahsyatnya kekuatan yang kita punya kalau visi dan rasa kita disatukan.
Kita juga bisa belajar dari filosofi lidi, sebatang lidi gak berarti apa-apa kan, paling Cuma jadi tusukan batagor. Apalagi dipakai untuk bersihin sampah di pekarangan rumah, dijamin gempor deh. Tapi coba bayangin kalau banyak lidi disatukan terus diikat rapi, apalagi kalau dicat warna pink. Mantap jiwa raga pastinya, dan itu sudah gak disebut lidi lagi, tapi sapu lidi. Selain namanya yang berubah, lidi juga jadi multifungsi banget loh. Dipakai nyapu oke, ngusir ayam oke, apalagi bersihin kenangan buruk sama mantan, bisa banget *upss. Dan masih banyak lagi fungsi latent ataupun manifestnya yang kalau ditelisik lebih jauh bisa buat netizen melongo.
Obviously, lidi bisa jadi guru terbaik kita selain pengalaman, jangan malu berguru sama lidi karena sangat ampuh jadi senjata untuk memperkokoh persatuan. Coba bayangin gimana kuatnya Indonesia kalau filosofi lidi jadi anutan kita, Negara lain pasti segan banget sama kita. Disintegrasi bangsa pastinya bisa ditekan, terus nilai-nilai pancasila bisa terwujud dengan baik. Sayangnya, masalah kita ya itu, kesadaran masih rendah, nasionalisme lemah, gak heran Indonesia semakin parah. Masyarakat rentan banget terprovokasi media sosial yang berisi hasutan, hate speech, dan hoax. Lebih parah lagi, masyarakat sangat mudah diadu domba dan akhirnya membahayakan Negara. Yuk, barengan nularin virus filosofi lidi ke seluruh elemen masyarakat. Kita gak harus pake otot kok, dengan kalimat yang halus dan persuasif pun kita bisa menggiring Indonesia ke arah yang lebih baik. Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Filosofi lidi untuk Indonesia yang kokoh.
Broom stick for better life

YUNDARI AMELIA CHANDRA
BLOGGER MAYUNG DUTA DAMAI

Discussion is the appearance of a building or a https://writemypaper4me.org/ company important.