Halo readers yang budiman nan hitz seantero jagad maya. Bentar lagi tahun baru nih, pastinya resolusi tahunan udah tercapai ya ? Iya dong! Makin mendekati akhir tahun ya makin hangat aja nih isu-isu sensitif yang berbau SARA, khususnya agama. Readers pastinya tau banget kan isu yang lagi buat dunia internasional naik pitam. Yappp bener banget! Pengakuan sepihak Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Negara yang pro Palestine pasti mengecam keras banget ya keputusan si Trump itu, gimana nggak sih, enak aja ngambil keputusan sepihak.  Kita sebagai negara dengan masyarakat yang mayoritas muslim juga pastinya geregetan banget sama isu ini ya, bikin KZL parah. Padahal udah mau tutup tahun, kenapa gak buat sesuatu yang lebih berkesan gitu ya, bukan yang bikin sakit mata pas liat headlinenya. Entah kenapa ya, renyah banget sih isu-isu yang berbau SARA untuk diulas terus jadi trending topic dimana-mana. Media emang juarakkk sih, ya! Pokoknya isu-isu sensitif kayak agama fix paling laris untuk disentil. Apa yang sedang jauh lebih laku dari diskonan baju ? just keep on reading.

Well, agama sering banget dijadiin kambing hitam di konflik-konflik yang melibatkan masyarakat tertentu, padahal semua agama itu pada dasarnya baik. Tapi kenapa sih agamaaaa terus yang disebut-sebut, padahal salah pun nggak. Kita sebagai insan yang baik harusnya bisa menghargai kepercayaan orang lain. Ya, readers, sekarang masalah  toleransi sama intoleransi ini sedang laku banget dimana-mana kayak diskonan di Matahari. Apalagi di Indonesia, padahal sekitar 10 tahun yang lalu masalah-masalah terkait agama itu gak pernah kecium, kalau pun ada ya gak sampe lebay terus berlarut-larut. But see what happens today, dua tahun belakangan ini masyarakat Indonesia mudah banget kesulut, sumbu pendek parah. Dikit-dikit tawuran, dikit-dikit sentimen, hellooo kita ini udah lama kenal yang namanya Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Tapi kenapa baru sekarang isu-isu ini di blow up, apalagi sejak ada kasus penistaan agama sama seseorang yang readers gak mungkin tutup mata pas denger beritanya.  Tau gak toleransi itu apa ? Jadi, menurut KBBI toleran adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Atau simpel aja kayak mie instan, “menghargai perbedaan”. Atau panjangan dikit aja, “melihat perbedaan sebagai instrumen untuk saling bersatu, karena berbeda itu indah”.

Udah simbol burung garuda plus jargonnya bertebaran disetiap ruangan,  diajarin toleransi sejak ingusan, belajar P4 sampe Kewarganegaraan, ehh masih aja kebakaran jenggot sama isu yang berbau perbedaan. Sebenarnya kita ini terlalu ngurusin urusan orang lain gak sih ? Misalnya aja ya orang lain naruh bendera agamanya di posisi yang lebih tinggi dari bendera Indonesia, eh malah di cap menistakan simbol negara. Padahal mereka nyadar kalau perbedaan pendapat itu biasa, terlebih di negara demokrasi yang menjunjung tinggi hak mengemukakan pendapat ini. Siapa tau maksudnya taruh bendera agama di atas bendera negara biar spirit keagamaan di hadapan tuhan bisa dijadikan kekuatan untuk melindungi negara, persepsi orang kan beda-beda. Kok repot banget sih ya ngurusin hidup orang lain, emang hidup situ udah bener ? Kan! kita sebagai manusia yang baik harusnya menghargai pendapat orang lain, bukan dijudge terus isunya dibesar-besarin, gak ada kerjaan banget sih emang. Tapi gak bisa dinafikan gitu aja ya tentang hal ini, karena setiap kita ngejalanin hidup pasti orang gak akan berhenti berkomentar. Terus apa iya semua komentar mereka harus kita denger ? Kita sih sebaiknya denger komentar yang membangun kita jadi lebih baik ya, bukannya menjatuhkan. Makanya berhenti deh konsumsi berita yang berbau toleran sama intoleran itu, karena makin banyak viewers ya makin getollah mereka buat beritanya. Beda mazhab dikit, dibesar-besarin terus meledug kayak kompor. Gimana media nggak makin seneng goreng berita ini sih. Be a smart netizen dong ya!

Sekali lagi ya, perbedaan itu bukan hal yang baru di Indonesia, lumrah banget. Kenapa gak perbedaan itu kita jadiin kekuatan aja, bukan alat pemecah belah persatuan bangsa. Bukannya semua agama itu ngajarin kita untuk selalu berbuat baik ke sesama ? harusnya sih bisa begitu ya, karena hal yang baik menurut suatu agama itu biasanya sifatnya universal *cmiiw. So, perbedaan agama bisa jadi alat pemersatu kita karena toleransi kita yang kuat, bukan cuma ranah nasional aja ya tapi secara global. Karena sekarang apapun bisa terjadi, untuk menciptakan dunia yang damai dengan toleransi beragama pun bukan hal yang utopis. Let’s prove it together!

YUNDARI AMELIA CHANDRA

BLOGGER MAYUNG DUTA DAMAI

Reconstruction, 1865-1877 chapter 16- https://pro-essay-writer.com/ reconstruction an unfinished revolution, 1865-1877 15.