Hai readers yang lagi nunggu undangan Maulid, sama kok kita, xixixi. By the way, anyway, busway, kalau denger istilah setia kawan, kira-kira yang seliweran di otak kalian apa readers ? Rela nemenin geng kalian ketemu dosen killer nan pelit nilai yang bikin gemeter ? Atau ngikutin temen nggak milih jalan tikus untuk hindari razia padahal surat-surat kalian nggak lengkap, dan akhirnya disidang barengan ? #pengalamanpribadi. Simpelnya setia kawan ya begitu gengs, pait manisnya telen barengan, sidang skripsi juga kalau bisa barengan, makin oke tuh. Karena dengan hal-hal kayak gitu, keeratan solidaritas kalian bisa diukur dan pastinya kita tau banget bedanya mana temen yang fake dan true, go away then bye maximal aja fake friends.  Tapi you knowlah ya, zaman now ini susah banget bedain yang fake sama nggak, karena pada jago acting semua sih tapi gak sempet ikut casting. Nyari true friends itu kayak nyaring lele tapi yang nyangkut sendal, nyusahin banget emang. But wait, kenapa sih harus “mencari “? Kenapa gak “menjadi” true friend aja ? Setia kawan itu gak susah kok readers, kita cuma perlu inget sama hakikat kita sebagai manusia yang gak bisa hidup sendiri dan sempet-sempetin bayangin suatu saat kita ada diposisi terendah and no one cares. Gimana tuh rasanya ? Pasti aku bisa mati kayak lagunya Latinka, so we have to do good things walaupun balasannya gak selalu baik. Tapi readers, kita masih punya Tuhan untuk kembali, perhitungan Tuhan akan baik buruknya perilaku kita adalah yang paling akurat. Catat ya, paling akurat. So jangan takut berbuat baik dan memperkokoh kesetiakawanan sosial kita ya.

Fenomena sekarang ya, hal-hal kecil kayak kerikil aja bisa jadi gunung, apalagi hal sebesar gunung, bakalan jadi apa tuh ? Itu gak lain gak bukan ya karena kurangnya solidaritas dan melemahnya rasa persaudaraan kita terhadap sesama, udahlah kita ini satu, Indonesia. Salah ngomong antar individu kok bisa jadi perang suku, ya ampun Tuhan ada apa sama kita semua ? Mudah banget buat kita  terutama generasi muda kebanggaan bangsa yang hits di semua social media ini  terprovokasi hal-hal receh dua ratusan kayak gitu ya. Jelas, karena sifat kita yang kurang open-minded dan sangat etnosentris ini bisa jadi pemicu utama. Apa kita gak mau jadi generasi muda beda yang selalu menjunjung tinggi tenggang rasa dan jadi peace-keeper minimal untuk daerah kita sendiri. Mau dong pastinya, karena kalau bukan kita yakali emak-emak zaman now atau “seorang” tiang listrik gak bersalah yang turun tangan, kan kasian.

Banyak banget sekarang ya yang ngelakuin apa-apa cuma untuk kepentingan kelompoknya, kayaknya susah banget disatuin, kayak aku dan kamu *baper detected*. Upss, justru hal-hal kayak gini nih yang semakin memicu disintegrasi bangsa, gimana nggak, egois sih. Bukannya menjaga persaudaraan dan kesetiakawanan eh malah ikut memperuncing bambu untuk memisah. Kita bisa liat contoh kecilnya di lingkungan kampus, ini keliatan banget senjangnya, so sorry to say ya, anak rantauan cenderung ngumpul bareng temen sedaerahnya, walaupun ada sebagaian yang membuka diri tapi ya hal kayak gitu gak perlu dibudayakanlah. Kita ini satu, diingetin lagi, kita satu ya readers. Karena mementingkan diri atau kelompok tertentu itu bukan hal yang patut dibanggakan, merusak kok bangga. Ayolah kita barengan jadi generasi selo yang punya visi misi sama untuk masa depan Indonesia raya jaya selalu sepanjang masa. Kita nih stakeholders, so come on, come forward! Noted : Berjuang sendiri sesungguhnya tidak selalu baik, kuy start bareng.

YUNDARI AMELIA CHANDRA

BLOGGER MAYUNG DUTA DAMAI

Chicago is a stellar setting of this 2003 debut novel that spawned https://essaydragon.com/ a 2009 movie.