Beberapa hari lalu, saya mampir ke salah satu kantor organisasi underbow partai berlambang mercy. Setelah menuntaskan perkerjaan siang itu saya memenuhi undangannya dan ke sana mengambil oleh-oleh perjalanan dari pulau Sumbawa.
Om Astar, biasa saya menyapanya. Setelah bertanya kabar dan mencicipi penganan khas olahan susu sapi, ia mulai bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan sepasang turis asal Perancis.
“Ternyata framing media terhadap Islam di luar negeri masih segitu parah ya,” katanya. Saya pun mulai serius menanggapinya.

Akhirnya saya terpikir untuk membuat tulisan ini mengulas bagaimana pengalamannya.

****
Jeremy and Marion, pasangan muda asal Marseille, Perancis. Mereka baru saja menuntaskan perjalanannya Thailand, China dan Vietnam sebelum menjalalahi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali sebelum kembali ke negaranya.
Pertemuan di sebuah warung kopi di Terminal Dara, Kota Bima. Keduanya baru saja transit dari perjalanan mereka dari Pulau Komodo, NTT.
“Yes. Your people smile and their hospitality impressed me much,” kata Jeremy sambil mengangkat jempolnya. Begitulah ia menggambarkan perasaannya saat ditanya tentang bagaimana orang Indonesia menyambut mereka.
Perbincangan berlajut ke pengalamannya menjelajahi pulau Komodo, dan tak henti puja puji untuk keindahan alam dari keduanya.
Perbincangan menjadi sedikit serius saat teman saya bertanya tentang isu terorisme dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Dan bagaimana hubungannya dengan Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Mendengar pertanyaan ini, pasangan Marseille ini sempat menunjukkan wajah cukup tegang. Mungkin karena hal ini termasuk sensitif bagi mereka, pun bagi orang Barat kebanyakan. Tapi setelah dijelaskan maksud pertanyaan bahwa hanya ingin mengetahui pandangan mereka tentang teror yang mengatas-namakan agama, mereka pun tersenyum. Dan menjawab pertanyaannya.
“When I told my friends that my girlfriend and me wanna go to Indonesia, almost most of them little bit surprised. They warn us to be carefull, carefull and carefull”, jawabnya.
Pria 26 tahun ini tidak menampik bahwa efek berita radikalisme dan terorisme yang menstreotyping Islam sebagai “agama teror” sedikit banyak mempengaruhi pandangan warga Perancis terhadap agama Muhammad SAW.
Apalagi sejak tahun 2015, rentetan teror mengancam negara “ayam jantan” ini. Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mengklaim sebagai pelaku. Ada juga pelaku yang hanya korban propaganda ISIS melalui internet.
Dimulai dari penyerangan kantor tabloid satir Charlie Hebdo di ibukota Paris, 7 Januari 2015. Dan teror yang terus berkelanjutan hingga tahun 2017 ini.
Tidak heran kalau akhirnya keluarga besar dan teman-temannya khawatir tentang kepergian mereka ke Indonesia, yang merupakan “sarang” muslim di dunia.
Yang menarik, betapa pun teman-temannya memperingatkan mereka, kedua muda mudi ini tetap ngotot berangkat ke Indonesia. Mereka memiliki cara pandang yang terbilang kontras dengan sebagaian besar orang di negaranya. Bagi mereka, pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan, kedamaian dan ajaran keselamatan. Jika pun terjadi aksi teror atau tindakan radikalisme, itu tidak mewakili ajaran agama sama sekali.
Baik dalam Islam, Hindu, Budha, Kristen dan agama lain, selalu ada segelintir masyarakat yang bertindak radikal atau berbuat kejahatan dengan mengatas-namakan agama. Ia mengakui bahwa itu hanyalah sebatas klaim kebenaran sepihak. “Jadi sejumlah penganut agama apapun pernah melakukan hal yang sama”, tegasnya. Kehadirannya di Indonesia, tepatnya, NTT, NTB, dan Bali, sekaligus membuktikan bahwa mayoritas muslim menyambutnya begitu ramah dan penuh senyum. Mereka berjanji akan mengabarkan pengalaman mereka di negaranya.
Percakapan terhenti setelah speaker terminal memanggil para penumpang untuk bersiap. Setelah foto bersama dan tukar-menukar akun sosial media, mereka berpisah menaiki bus yang mengantar mereka ke tujuannya.
Have a Nice Journey, Jeremy and Marion.
****
Pelaku terorisme yang membawa-bawa simbol agama di dalam aksinya sebenarnya merusak citra Islam itu sendiri. Karena aksi segelintir orang yang mengatasnamakan agama atau membawa simbol-simbol agama dalam melancarkan aksi terornya, seluruh umat Islam di dunia terkena getahnya.
Berbagai teror di Paris membuat kebencian warga Perancis khususnya dan warga Eropa umumnya terhadap agama Islam dan penganutnya akan semakin bertambah. Islamophobia yang sudah akut di Eropa maupun di dunia Barat akan semakin menemukan pembenaran dengan kejadian ini.
Anggap saja sikap Islamophobia itu sebagai sebuah cobaan dan ujian dalam mempertahankan keyakinan. Tetap saja menjalankan kesalehan dalam beragama dan kesalehan dalam sosial seperti yang selama ini dipraktekkan. Masih jauh lebih banyak orang Islam yang baik dan hanif dalam menjalankan agamanya, daripada segelintir orang yang mengaku Islam tetapi perilakunya jauh menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad.
Menunjukkan Islam itu  identik dengan ajaran cinta damai adalah dengan amal kebajikan, bukan dengan gembar-gembor melalui kata-kata. Jika sudah begitu masih juga dicap miring oleh non muslim, ya sudah, terserah mereka menilai sajalah, kita bisa apa. Hidup itu singkat, kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan amalan kita di hadapan Allah SWT nanti.
Dan kita sebagai anak muda berkewajiban menjadi yang terdepan. Memerangi propaganda mereka. Ayo berbuat, kita buktikan Islam itu rahmatanlilalamin.

 

It’s to be hoped that judges will hand https://justdomyhomework.com/ down judicious decisions from the bench, but they’re not the only ones who can be judicious.