Berapi-api,  enerjik, penuh semangat, antusias, spontan, kreatif, imajinatif,  dan tingkat kelabilan maksimal. Pemuda mana yang tak kenal rasa-rasa yang ramai itu ? Pada masa ini seakan-akan kita haus akan segala hal. Tetapi ada satu hal yang pasti kita alami dan rasakan, yang sekaligus menjadi kelemahan bagi pemilik jiwa muda saat ini ialah rasa ingin tahu yang tinggi. Banyak hal terjadi hanya karena ingin tahu lalu akhirnya coba-coba dan hasilnya berakibat fatal. Jika tidak disikapi dengan bijak, rasa ingin tahu tersebut dapat menjadi bumerang untuk diri kita sebagai pemuda. Untuk menjadi pemuda yang cerdas, kita seharusnya dapat menjadikan kelebihan tersebut sebagai tameng untuk mencegah paham radikal merasuki ruang dan waktu kita. Kemampuan membedakan yang radikal dan tidak, dan semangat menggaungkan konten positif merupakan dua langkah sederhana yang cukup penting untuk menjadi pemuda cerdas.

Hal yang sangat potensial ini dimanfaatkan oleh kaum radikal untuk menyuntikkan doktrin mereka agar visi dan misinya terlaksana. Pemuda dibidik karena hal yang telah disebutkan di atas tadi, kita dianggapnya mangsa yang empuk dan dampaknya sangat dahsyat. Berbagai cara dilakukan untuk mencuci otak kita agar sepaham dengan mereka, mulai dari cara yang halus hingga yang berbau represif. Cara yang halus disebar melalui hate speech, stigmatisasi, provokasi dan pelabelan sesat. Sedangkan cara yang represif dilakukan dengan penyerangan, perusakan dan bahkan pembunuhan. Isu-isu yang mereka bawa cenderung anti terhadap kebebasan beragama, menyesatkan, mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka, dan selalu merasa paling benar.

Untuk membentengi diri dari virus radikal, kita sebagai pemuda cerdas hendaknya mengetahui strategi-strategi mereka dalam melancarkan aksinya. Biasanya kaum radikal membentuk aliansi dengan kelompok politik, karena mereka sangat sadar tanpa dukungan politik maka perjuangan mereka akan sia-sia belaka. Dalam aliansi mereka  terbangunlah sebuah simbiosis yang saling menguntungkan dimana parpol serta politisi membutuhkan dukungan suara dari kaum radikal, dab kelompok radikal mengharapkan perwujudan agenda-agenda yang telah mereka rencanakan dapat direalisasi oleh sang penguasa. Tak ada yang mampu berjuang sendiri untuk meraih misinya, hal ini juga disadari oleh kaum radikal. Oleh karena itu mereka berinisiatif untuk menggandeng tokoh islam serta ormas non-radikal untuk memperluas dukungannya. Mereka juga menyadari bahwa jumlah mereka tak cukup memadai sehingga mereka perlu mengembangkan strategi, misalnya dengan cara aktif melobi tokoh dan ormas islam untuk berjuang bersama mereka. Biasanya mereka membawa isu yang tidak terlalu kontroversial dan mudah diterima oleh tokoh dan ormas yang tidak radikal.

Belakangan ini kaum radikal mulai melirik strategi advokasi dan membutuhkan back up dari produk hukum. Hal ini mendorong mereka untuk melakukan aksi jalanan yang bertujuan untuk menekan aparat hukum dan pemerintah. Selain itu, taktik yang kerap digunakan kaum radikal ini adalah membangun jaringan aksi antar kota dengan cara mengumpulkan orang-orang dari berbagai kota untuk bergerak bersama. Dalam beraksi, mereka mencoba mendapat dukungan dari kelompok lain agar isu yang didengungkan lebih kuat gemanya dan menjadi agenda perjuangan bersama sehingga kemungkinannya untuk berhasil semakin besar.

Jika mereka punya berbagai strategi untuk menyempurnakan aksinya, tentunya kita sebagai generasi muda yang cerdas memiliki lebih banyak ide kreatif yang fresh untuk membendung strategi dan aksi mereka. Karena kita adalah harapan bangsa untuk Indonesia yang damai, aman dan tenteram. Terus semarakkan aksi-aksi damai di dunia maya.

 

Penulis : Yundari Amelia Chandra (Amel)

Blogger Mayung Duta Damai

Please say what https://writemypaper4me.org/ it is, where you learned to do this, how often you are doing this.