Sudah pernah diadu domba ? Atau (maaf) pernah mengadu domba ? Emang “adu domba” itu apaan ? Adu domba adalah suatu perbuatan yang membuat orang bertengkar. Akibatnya tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahpahaman berujung kebencian permamen. Adu domba biasanya dilakukan oleh orang yang anti-perdamaian.

Hancurnya perdamaian seringkali terjadi karena ulah provokator yang haus sogokan. Kids jaman now biasa menyebut mereka “kaum nasi bungkus”. Mereka bergabung ke dalam komunitas fanatik yang menganut paham radikal.

Bukan hanya bergabung dalam satu komunitas, namun mereka pindah ke komunitas lain guna menciptakan pertengkaran antara kelompok-kelompok tersebut. Menyebarkan kabar bohong adalah senjata pengadu domba untuk menumbuhkan kebencian kelompok satu terhadap kelompok lain. Begitu pula sebaiiknya. Lalu terjadilah pertengkaran yang tiada usai. Memperkokoh persatuan adalah kunci perdamaian yang abadi. Persatuan yang mampu menggerakkan berbagai komponen yang berbeda.

Persatuan disini tercipta tanpa adanya unsur provokasi yang meraja lela.
Sebagai penduduk Indonesia, pastinya tidak asing lagi dengan burung garuda. Burung ini adalah lambang persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Memegang teguh “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan persatuan tanah air tercinta. Yang artinya “berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Semboyan tersebut terealisasikan oleh adanya berbagai macam agama, adat, suku, budaya, dan bahasa di Indonesia.

Di jaman now ini, para provokator sangat mudah untuk membuat pertengkaran melalui dunia maya. Bahkan dalam hitungan detik, informasi hoax bisa menyebar ke berbagai media sosial. Dunia politik dan agama adalah wadah yang disukai provokator untuk menjalankan aksi karena kedua hak tersebut merupakan ranah sensitif.

Sesuatu yang sudah bersinggungan dengan agama, pasti akan bersentuhan dengan batin yang berakibat pada emosional secara langsung. Jika emosional sudah lepas kendali, maka orang lain akan mudah memobilisasi. Setalah terpengaruhi, mereka yang kehilangan kendali digeret sebagai alat penunjang politik tidak berbudi. Inilah strategi kaum nasi bungkus yang tiada henti.

Dalam upaya pencegahan adu domba yang keji, hendaknya mengkaji informasi dengan teliti. Jangan sampai menelan informasi tanpa mengamati dengan hati-hati. Buang jauh-jauh konten-konten yang membuat pikiran jadi mati. Mari isi diri dengan hal-hal postif agar tercipta perdamaian yang hakiki.

A discussion between professor and a student about https://pro-essay-writer.com/ her assignment and various interests of other students.