“Lebih mencintai Indonesia dan keberagamannya.” Sepertinya itu kalimat yang tepat menggambarkan apa yang saya rasakan setelah mengikuti karantina empat hari di pelatihan Duta Damai Dunia Maya chapter Mataram yang digelar oleh BNPT.

Sesi sharing bersama Ambassador Duta Damai BNPT, Kak Kikan berkesan sekali. Mulai dari cerita teman-teman yang mengalami proses pencarian dan sempat diracuni paham-paham aneh dan akhirnya selamat karena berani menolak.

Kemudian cerita dari Dee, sahabat saya yang selalu memanggil saya Koko. Ia adalah seorang muallaf yang sempat dijadikan target oleh anggota ormas yang baru-baru ini dibubarkan.

Sesi sharing dari peserta yang berpenampilan “aneh”.

Gimana tidak aneh? Satu-satunya peserta yang bercadar dan menurut info yang saya peroleh, dia adala peserta pertama se-Indonesia yang memakai niqab. Namanya Nabiya, ukhti asal Lombok Timur itu semakin membuka wawasan saya pribadi, dan mungkin juga teman yang lain tentang streotype “cadar” dan celana cingkrang.

Kak Kikan juga memberikan banyak masukan bagaimana kita sebagai generasi muda sekaligus Duta Damai menjadi sosok yang baru dalam hal menerima perbedaan dan mengubah pola pikir menjadi lebih terbuka.

Beberapa tahun lalu, saya masih menjadi orang yang memilih menjauh kalau ada yang membahas Pancasila, Soekarno dan apa såja yang berbau pemerintah dan Indonesia.

Iya, masa SMP dan SMA saya dipenuhi tengan kegiatan yang jauh dari hal yang bertema nasionalisme, rasa ke-Indonesia-an.

Masa itu, lebih banyak saya lewati dengan mengikuti kegiatan di sekolah swasta milik salah satu ormas terbesar di NTB, selebihnya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi paman.

Buku yang tersedia disana rata-rata berisi pembahasan tentang Gaza, Palestina, Israel dan tentu saja Jihad.

Salah satu favorit yang selalu saya baca sampai habis adalah majalah Sabili, dan artikel favorit tulisan Irfan S Awwas, sekarang Ketut Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia. Bahkan koleksi buku pribadi banyak dari karyanya.

Saya pernah mengidolai Syekh Ahmad Yassin, pendiri Hamas sekaligus pimpinan spiritual organisasi paramiliter Islam Palestina. Sebelum tewas di bom militer Israel beliau adalah orang paling terdepan dalam perang melawan hegemoni Israel.

Setiap Jumat dan Minggu saya juga aktif di sejumlah kegiatan yang dilakukan di salah satu pesantren di dekat kampung saya. Disana saya mengikuti banyak kegiatan mulai dari Ghazwul Fikri tentang apa itu Jihad, kenapa harus berjihad dan lain sebagainya. Bahkan ikut terlibat aktif di kegiatan fisik yang mengharuskan untuk berlatih semi militer.

Ketika itu, secara usia, saya masih anak bawang. Jadi, proses mendengar, memperhatikan, dan berkomunikasinya tidak terlalu jauh. Jadi semua rutinitas dan kegiatan saya tidak jauh dari hal berbau “perang timur tengah” terekam jelas.

Masih teringat jelas saat guru mata pelajaran Sejarah sampai menangis dan tidak mau mengajar di kelas karena saya mendebatnya tentang Pancasila dan Soekarno.

Pikiran mulai terbuka lebar saat memilih Bali sebagai tempat kuliah. Bertemu dengan orang baru, lingkungan baru, dan juga teman dari berbagai latar belakang mulai menggoyahkan apa yang saya percayai selama ini. Pun setelah balik lagi ke Mataram, bergabung dengan banyak komunitas semakin membuyarkan bayangan saya tentang Islam dan ketidakadilan yang terjadi.

Kalau sekarang, wah, agak ngeri kalau disuruh bicara soal itu. Setelah ikut dan dilantik menjadi Duta Damai di kelompok Mayung. Saya jadi lebih awas dan hati-hati bersosial media hehehe… kalau kata kak Maia, saya kena batunya…

Jadi, sekarang saatnya berubah. Menjadi sosok baru, yang lebih cinta Indonesia. Cinta keberagaman dan aneka ragam suku bangsanya.

Momentum peringatan Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan sepertinya tepat untuk memulai menjadi sosok yang baru.

Terima kasih Duta Damai. Terima kasih BNPT.

There are a few courses to take when cramming for https://writemypaper4me.org/ tests and projects.