Kalau terompet sama kembang api udah berjejer di pinggir jalan itu tandanya apa ? Yapp anda benar! Bentar lagi tahun baru, dan kita beruntung ya yang nangkring pinggir jalan bukan sangkakala, abis itu nemplok selesai kita semua.

BlassNatal juga udah lewat, selamat Natal ya buat yang merayakan, tinggal nunggu 31 Desember yang notif facebook kita udah bisa ketebak, “seratus tiga puluh satu teman anda sedang berulang tahun hari ini, ucapkan selamat segera”. Hapal banget dah akhir tahun notifnya begitu, belum lagi para jones yang minta do’a biar malemnya hujan badai,FYI mereka sampe sholat istisqa’, lho. Tahun barunya jangan lupa di awali pake semangat baru juga ya, apalagi semangat nasionalisme kita dan juga kecintaan kita akan perdamaian. Kalau yang ngerusuh-ngerusuh gak jelas, terus juga nebar hoax, apalagi yang kesulut sumbu pendek, udah bye aja. Karena udah mainstream parah deh, berubah dong jadi power rangers zaman now.

Presiden Palestina aja hadir di gereja Nativity pas misa Natal, masak kita yang bukan siapa-siapa gak mau sekedar toleransi. Toleransi itu murah, gampang, kacang kok, cukup dengan ucapin selamat ke mereka yang punya keyakinan beda sama kita. Gitu aja langkah awalnya, ya masak nulis komentar, status, terus bullying sepanjang jalan kenangan aja bisa, terus ngetik satu kalimat aja susah. Duh! Kesian lho ya, hidup kan bukan untuk diri sendiri, ya apa susahnya menghargai mereka yang berbeda. Kita bukan bangsa yang homogen lho readers, lupa ya sama Bhineka Tunggal Ika ? dari dulu kita udah majemuk, gak bisa dinafikan apalagi dipinggirkan. Kalau bukan kita pelopornya ya masak mbahmu ?

Kita sih harusnya dikenal dunia sebagai bangsa yang paling toleran karena kita , walaupun konflik jadi bumbu penyedap kesatuan kita. Banyak banget hal-hal gak bersalah yang dikambing hitamkan, misalnya agama, sedih hati adek bang. Agama itu sesuatu yang sacral, datangnya jadi tuhan, kok dikambing-kambingin. Kehabisan amunisi kali ya ? apalagi social media sekarang, yang cheesy lima ratusan malah laku banget. Harusnya dicerdaskan eh malah dijerumuskan, gimana sih.

Padahal hal-hal kecil macam toleransi gini bisa banget jadi perekat kita semua, karena semakin solid suatu bangsa maka akan semakin susah terkontaminasi toksik asing yang gak sesuai sama kepribadian bangsa kita. Tapi kok susah ya makin kesini, ya jelas, kan laper. Balik lagi ke perut, apapun bisa terjadi kalau manusia udah laper nambah baper. Padahal sadar damai, sadar toleransi, tapi gak kenyang sama hal begitu ya akhirnya milih jalan pintas. Dibayar jadi provokator mau, jadi penebar hoax mau lagi, makanya sini jadi duta damai biar kenyang (kenyang otak dan perut) *oops.

Tahun udah mau tutup, tindakan intoleran sepanjang tahun kita akhiri aja, kitanya jangan *eaa. Kadang yang kita butuh emang cinta, karena sesuatu yang dilakukan dengan kekerasan itu kurang baik walaupun kadang efektif juga sih. 2017 penuh drama gapapa, biarin berlalu ketiup angin sepoi-sepoi. Tahun depan ini kita rombak lagi, awali semuanya dengan cinta, toleransi, kedamaian. Indah banget pokoknya kalau udah tenteram hidup kita,mau ngapain aja enak, tenang. Gak was-was mau ada tombak nyasar atau bom panci emak. Karena kenyamanan itu priceless so ayo kita beli bareng dengan mewujudkan perdamaian yang abadi. Karena selalu, damai itu Indonesia.

Yundari Amelia Chandra
Blogger Mayung Duta Damai

Worship to extravagantly praise, as if the subject were https://essaydragon.com/ a deity.